Mengungkap Rahasia Memotret di Malam Hari

2011-12-26

Ketika mentari berhenti memancarkan sinarnya yang terik di siang hari, langit sedikit demi sedikit berubah dan langit yang muram dihujani dengan semburat warna yang indah dan sungguh menakjubkan. Kemudian satu demi satu lampu mulai menyala untuk menandai datangnya malam, menciptakan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan kala siang hari.

06 Apr 2010

Dari waktu ke waktu, kami bertanya-tanya tentang cara bagaimana para fotografer profesional dapat memotret pemandangan malam yang luar biasa. Berikut ini, Anda dapat menemukan beberapa rahasianya.

Apa bedanya memotret di malam hari? Saat membawa kamera dan menuju ke luar rumah setelah matahari terbenam, kami berusaha membidikkan kamera ke lingkungan sekitar ke arah cahaya yang terang di antara bayangan malam yang gelap. Namun sayangnya – dan juga seperti dugaan kami – hasilnya justru tidak gemerlap. Dan tidak seperti foto yang diambil pada siang hari dengan cahaya yang terang, terdapat banyak penghalang yang tidak terlihat saat berusaha memotret di malam hari.

Jumlah cahaya yang menyinari latar belakang, kontras yang tinggi antara area yang disinari cahaya dan yang gelap, memerlukan pencahayaan yang lama, gangguan, dan selain itu campuran antara berbagai cahaya yang tidak diharapkan dari berbagai sumber cahaya dengan warna yang belum pernah Anda lihat, serta objek yang berguncang dan tidak fokus. Ya, ada berbagai masalah yang harus disiasati untuk mendapatkan foto yang bagus di malam hari. Namun, di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Selain itu, daripada menganggap masalah tersebut sebagai penghalang, mungkin kita dapat memanfaatkannya. Dengan cara ini, kita dapat menciptakan foto foto dengan suasana dan lingkungan di malam hari yang berbeda dan khas. Mari kita mempelajari tips dari anggota "Night View," sebuah klub spesialis untuk foto suasana malam.

■Artikel dipersembahkan oleh "www.nightview.co.kr"

Astrofotografi

■Ditulis dan dipotret oleh Jaehong Chung (Nama pena: pimpman)

Meskipun astrofotografi adalah bidang fotografi khusus, namun dapat dianggap sebagai sub-bagian dari fotografi pemandangan malam karena sebagian besar foto diambil di malam hari. Namun, juga ada astrofoto yang diambil di siang hari, seperti matahari atau bulan yang dipotret di pagi hari. Pertama, ada dua jenis utama teknik astrofotografi - dengan menggunakan tripod dan fotografi berpanduan.

Singkatnya, teknik fotografi berpanduan yaitu memotret gugusan bintang, nebula, planet atau Messier sebagai objeknya dengan cara memantau objek dengan seksama menggunakan pencahayaan yang lama. Ini disebut dengan metode kuda mainan. Yang kedua, teleskop dan kamera dapat digunakan untuk memotret (fokus utama atau metode tidak langsung). Yang terakhir, foto juga dapat dipotret menggunakan teleskop ekuatorial atau teleskop astronomi dan bukan menggunakan kamera biasa. Fotografi berpanduan adalah bidang yang kurang dikenal oleh masyarakat. Jadi mari kita fokus pada fotografi menggunakan tripod.

Metode fotografi menggunakan tripod yaitu memasang kamera ke tripod untuk memotret dengan objek yang ada di langit. Untuk teknik tripod, terdapat metode fokus tetap dan metode gerakan diurnal. Karena bumi berrotasi, bintang-bintang dianggap melayang dan bergerak di langit. Karena bumi berrotasi 360 derajat dalam waktu satu hari, maka dianggap bergerak 15 derajat per jam. Oleh karena itu, menurut perspektif kami, bintang-bintang di malam hari juga bergerak 15 derajat per jam dengan arah berlawanan. Metode fokus tetap menggunakan pencahayaan yang singkat untuk memotret bintang yang lebih cenderung terlihat seperti titik dan bukan sorotan cahaya yang berekor. Foto sejumlah bintang dan konstelasi, dan bahkan Galaksi Bima Sakti, dapat dipotret menggunakan metode ini.

Misalnya Anda menggunakan kamera 35 mm, kamera yang dilengkapi dengan lensa standar 50 mm dapat memotret bintang yang bertahan selama 15 detik (dengan deklinasi 0 derajat). Semakin lebar lensa Anda, semakin luas sudut tampilannya, sehingga waktu pencahayaan yang diperlukan lebih lama. Sebaliknya, semakin tinggi kekuatan lensa telefoto yang digunakan, semakin kecil sudut tampilannya, sehingga waktu pencahayaan yang diperlukan lebih singkat.

Metode gerakan diurnal menggunakan pencahayaan yang lama untuk memotret bintang berekor. Jika menggunakan metode ini, sebaiknya Anda menyertakan lanskap seperti gedung, pegunungan, pemandangan latar belakang dan lain sebagainya di dalam foto, dan tidak hanya memotret bintang saja. Foto yang bagus juga tergantung pada arah ekor bintang, kecepatan dan faktor lain yang harus diperhatikan. Bintang-bintang di belahan bumi utara berputar berlawanan dengan arah putaran jarum jam, dari timur ke barat dengan Bintang Timur sebagai pusatnya. Semakin dekat rotasinya ke arah Bintang Timur, akan terlihat semakin pelan, dan sebaliknya - semakin jauh letaknya dari pusat, rotasinya terlihat semakin cepat. Saat memotret astrofoto, Anda juga dapat mempelajari tentang berbagai konstelasi dan mengagumi langit di waktu malam. Pasti juga menyenangkan jika dapat memotret komet atau meteor (bintang jatuh) menggunakan metode gerakan diurnal.

①Metode fotografi: metode gerakan diurnal
Tanggal: 31 Jan 2008
Lokasi: Naksan Park di Seoul Daehakro
Waktu: 20:20 hingga 22:40
(Total waktu pencahayaan foto: 2 jam, 20 menit)
Lensa yang digunakan: Pentax SMC DA FISHEYE 10-17
# total potongan: 254 foto dengan pencahayaan interval 30 detik (digunakan komposit Photoshop)
Aksesoris: tripod dan alat pencatat waktu

②Metode fotografi: metode gerakan diurnal
Tanggal: 02 Feb 2008
Lokasi: atap gedung Koresco Condominium (cabang Chiaksan) di Hoengseong-gun, Gangwon-do
Waktu: 19:17:00 hingga 23:40
(Total waktu pencahayaan foto: 2 jam, 6 menit)
Lensa yang digunakan: Pentax SMC DA FISHEYE 10-17
# total potongan: 228 foto dengan pencahayaan interval 30 detik (digunakan komposit Photoshop)
Aksesoris: tripod dan alat pencatat waktu
Foto ini menampilkan International Space Station (ISS) sedang melintas.

③Metode fotografi: metode fokus tetap
Tanggal: 05 Mei 2008
Lokasi: Anmyondo, Taean
Lensa yang digunakan: Pentax SMC DA FISHEYE 10-17
Aksesoris: tripod
Saya belum pernah melihat Bima Sakti seindah dan sedetil ini.

Foto-foto di atas dipotret menggunakan kamera film 35 mm dan tentu saja, hasilnya bervariasi tergantung pada jenis lensa, ISO dan faktor lainnya. Juga diasumsikan bahwa Anda memotret di lingkungan pegunungan, pedesaan, pantai atau gurun di mana polusi cahaya tidak terlalu parah seperti di lingkungan perkotaan.

Di kota besar seperti Seoul, di mana polusi cahaya sungguh sangat parah, masih dapat menggunakan metode fokus tetap pada beberapa kondisi. Namun, akan sulit memotret konstelasi Bima Sakti karena bintang-bintang jarang terlihat. Anda dapat memotret bulan atau matahari menggunakan metode gerakan diurnal dengan kamera film biasa. Namun, memotret bintang menggunakan metode ini juga akan sulit karena banyak polusi cahaya.

Jika menggunakan kamera film, Anda harus mengembangkan dan mencetak (memindai) film. Seringkali, studio foto tidak mencetak atau memindai film, karena menganggap bahwa tidak ada apa-apa di dalam film. Oleh karena itu, sebaiknya Anda memberitahu bahwa gambar tersebut adalah astrofoto saat mengambil film untuk diproses.

Jika menggunakan kamera digital (DSLR), Anda dapat memotret beberapa foto bintang menggunakan interval yang sesuai kemudian menggabungkannya menjadi satu foto dengan bintang-bintang yang berderet menjadi lebih banyak atau lebih sedikit.

Pertama, gunakan lensa bersudut lebar untuk menyertakan sebanyak mungkin bintang dan pertimbangkan komposisi jendela bidik untuk menciptakan harmoni dengan pemandangan latar belakang. Untuk nilai bukaan, gunakan kecepatan rana 30-60 detik dengan kisaran yang benar guna mencegah pencahayaan yang terlalu terang. Kemudian Anda dapat memotret secara berangkai sesuai waktu yang diinginkan. Untuk pengaturan kamera, gunakan mode manual untuk mode foto; gunakan fokus manual (tanpa batas) untuk pengaturan fokus; tetapkan reduksi gangguan ke OFF; pilih kecepatan ISO yang rendah; dan terakhir setel imbangan putih sesuai yang dibutuhkan. Kemudian Anda dapat memotret menggunakan tripod dan melepaskan kabel atau pencatat waktu. Anda memerlukan baterai yang telah diisi daya hingga penuh.

Langkah berikutnya adalah mengimpor file foto yang diambil dengan kamera digital (DSLR) ke Photoshop dan melakukan komposisi layer. Pertama, pilih foto yang akan menjadi foto utama sebelum membuka file foto satu per satu dengan urutan yang benar dan membuatnya tumpang tindih pada titik yang sama dengan foto utama. Saat menumpang tindihkan kedua foto, akan terbentuk layer lain di layer palette, dan hasilnya, Anda akan melihat dua layer. Akan ditampilkan jendela kecil berwarna putih di jendela layer palette tersebut. Mode penggabungan layer memungkinkan Anda memilih metode penggabungan untuk layer atas maupun bawah. Pilih "Lighten" yang berarti di tengah.

"Lighten" memungkinkan area yang terang pada layer tersebut lebih ditonjolkan sehingga ekor bintang tidak tumpang tindih, namun ditampilkan sebagaimana aslinya. Selama Anda mengedit layer dengan cara ini, ekor bintang akan terlihat semakin jelas dan pada akhirnya akan terlihat dalam satu gambar.

Tips fotografi: Selama musim dingin, kamera atau lensa dapat membeku atau mengembun. Anda dapat menutup lensa dengan kemasan pemanas untuk mencegah pembekuan.

Festival Malam yang Menakjubkan – Kembang Api

■Ditulis dan dipotret oleh Jungdae Kim (Nama pena: danny)

Peralatan utama untuk memotret kembang api adalah kamera DSLR yang dilengkapi dengan mode bulb, lensa zoom, tripod, kabel pelepas, dan papan atau topi hitam. Karena kita tidak mengetahui lokasi di mana tepatnya kembang api akan meletus, sebaiknya Anda menggunakan lensa zoom bersudut lebar danbukan lensa primer untuk mendapatkan komposisi layar yang fleksibel. Karena kembang api bisa saja sangat besar dan meletus di ketinggian tertentu dan meleset dari perkiraan, Anda harus menggunakan lensa bersudut lebar, khususnya jika memotret dari jarak dekat. Gunakan lensa zoom untuk mendapatkan sudut tampilan atau komposisi sesusi keinginan. Setelah menentukan sudut, Anda dapat mengganti dengan lensa primer untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas.

Kembang api biasanya meletus di udara setelah lima detik sejak disulut. Oleh karena itu, Anda bisa memperoleh foto kembang api yang bagus menggunakan pengaturan bukaan F8 hingga F16 dan kecepatan ISO 100 hingga 200.

Untuk mengambil gambar beberapa kembang api, setel kamera ke mode bulb, buka rana, dan tutupi lensa dengan papan atau topi hitam. Kemudian, buka tutup lensa tepat saat kembang api meletus. Dengan mengulang metode ini, Anda bisa memotret beberapa kembang api dalam satu foto. Hindari penggunaan tudung lensa karena dapat menyebabkan kamera sedikit bergerak dan akan membuat latar belakang kabur. Anda harus menggunakan kabel pelepas saat mengaktifkan fitur bulb, karena ini akan mencegah gerakan kamera.

Pengaturan AF (autofokus) mungkin akan gagal memfokus pada kembang api, jadi gunakan MF (fokus manual) untuk pengaturan fokus kamera. Karena lokasi meletusnya kembang api juga akan sedikit berbeda, sebaiknya Anda menggunakan bukaan yang lebih kecil untuk mendapatkan kedalaman bidang meskipun menggunakan fokus manual. Anda dapat menggunakan mode otomatis untuk WB (imbangan putih), namun menggunakan mode tungsten atau WB manual, atau menyetel nilai Kelvin (K) secara manual, dapat menghasilkan warna latar belakang yang lebih baik dan lebih biru.

Tips fotografi 1: Anda bisa mendapatkan foto kembang api yang lebih jelas pada letusan awal, karena kembang api susulan biasanya sudah terkontaminasi asap sehingga hasil foto kurang bagus.
Tips fotografi 2: Sebaiknya jangan hanya memotret kembang api, dapatkan foto yang lebih bagus dengan mengikutsertakan pemandangan kota sebagai latar belakang. Untuk melakukannya, periksa pencahayaan untuk pemandangan kota terlebih dulu. Kemudian, potret menggunakan fitur bulb. Anda dapat menggunakan papan untuk menutupi lensa setelah pencahayaan cukup. Kemudian, buka lensa saat kembang api meletus untuk memotret kembang api dengan pemandangan kota.

Esensi Fotografi Malam - Foto Interchange (IC)

■Ditulis dan dipotret oleh Jungdae Kim (Nama pena: danny)

Faktor utama untuk memotret IC di malam hari adalah ekor lampu kendaraan dan gemerlap lampu-lampu kota yang sungguh indah. Untuk menyertakan seluruh IC di frame, Anda memerlukan lensa bersudut lebar; dalam beberapa situasi, Anda mungkin memerlukan lensa mata ikan. Tentu saja, sudut tampilan da komposisinya akan berbeda tergantung pada area yang dipotret. Kisaran foto juga menjadi pertimbangan, dan banyak fotografer seringkali menggunakan lensa primer standar. Untuk mendapatkan foto yang bagus dengan ekor lampu kendaraan, Anda memerlukan kecepatan rana yang lebih lama. Sehingga, Anda tidak perlu menambah sensitivitas, meskipun untuk foto malam, dan dapat disetel hingga sekitar ISO 100. Secara umum, kecepatan rana harus lebih dari 15 detik untuk mendapatkan ekor lampu yang cantik, jadi bukaan harus disetel sedemikian rupa dengan memperhatikan kecepatan rana. Seringkali, gambar diambil dengan pengaturan bukaan F8 hingga F16 atau lebih. Bila perlu, kecepatan rana juga dapat ditambah menggunakan filter ND (neutral density). Para penyuka fotografi malam senang memotret dalam kurun waktu "waktu ajaib" - 30 menit sebelum dan sesudah matahari terbenam. Kurun waktu tersebut sungguh sangat cocok untuk memotret matahari terbenam dan pemandangan malam. Namun, foto IC tidak harus selalu dipotret selama waktu ajaib. Meskipun mungkin Anda mendapatkan warna yang lebih bagus selama waktu ajaib, menurut saya waktu-waktu sesudahnya setelah langit gelap lebih cocok untuk menjadikan IC sebagai subjek: Latar belakang yang gelap lebih dapat menegaskan lampu kendaraan yang berwarna putih dan merah. Saya lebih memilih metode menekan rana separuh untuk fokus pada objek menggunakan AF daripada beralih ke MF. Bila memungkinkan, gunakan kabel pelepas dan pilih WB manual dan bukan WB auto atau setel nilai Kelvin (K) secara manual untuk mendapatkan foto yang lebih bagus dan pemandangan malam yang luar biasa. Tips fotografi 1: Setel WB ke manual dengan fokus pada garis tengah IC saat mobil melintas. Tersedia banyak aksesoris untuk menyetel WB. Saya pribadi lebih sering menggunakan "cakram imbangan putih" untuk menyetel WB dan memotret IC di malam hari. Tips fotografi 2: Suasana foto berubah berdasarkan kecepatan rana. Anda harus memutuskan seberapa banyak ekor lampu kendaraan yang akan dipotret. Waktu rana yang lama dapat membuat jalan raya dipenuhi banyak lampu, atau Anda dapat menyederhanakan ekor lampu hanya dengan beberapa garis. Membandingkan kedua foto akan membuat Anda lebih paham dengan karakteristik masing-masing dan memberikan inspirasi.

Titik Fokus Lanskap Seoul yang Baru - Pemandangan Hangang di Malam Hari

■Ditulis dan dipotret oleh Yongmin Lee (Nama pena: mutro)

Orang lain biasanya menyertakan gambar jembatan saat memotret pemandangan Hangang di malam hari. Anda bisa mendapatkan foto yang bagus dan warna langit yang jelas dengan cara memotret tepat sebelum atau sesudah matahari terbenam. Visibilitas, yang sangat mempengaruhi fotografi, mungkin berbeda-beda tergantung kondisi cuaca, jadi Anda harus selalu mempertimbangkannya. Kondisi cuaca ketika saya memotret ini yaitu saat langitnya terlalu cerah, sehingga kecepatan rana sangat tinggi. Hal ini juga tidak cukup untuk memotret ekor lampu kendaraan yang melintas di Jembatan Banghwa. Akhirnya, saya memperlambat kecepatan rana dari ISO 100 menjadi 50 untuk memotret ekor lampu mobil, namun sekaligus menggunakan bukaan yang lebih kecil yaitu sekitar F13 untuk memotret gunung yang jauh. Dengan menyetel kamera ke clear mode, saya juga berusaha menciptakan warna yang lebih kuat di dalam foto.

Jembatan Banghwa
1. Lokasi: di tengah gunung sehingga terlihat ujung utara Jembatan Banghwa
2. Tanggal & waktu: 16 Feb 2008 sekitar 18:30, tepat sebelum matahari terbenam
3. Info pengaturan: 135 mm F2.0 Pengukuran cahaya: Multi-bukaan: F13 Kecepatan Rana: 10 detik ISO: 50 Mode: Clear

Jika Anda memotret dalam kurun periode antara matahari terbenam dan malam tiba, sebaiknya gunakan mode tungsten karena masih tersisa warna yang agak kebiruan di langit. Pengaturan kamera untuk pemandangan malam yang saya gunakan adalah mode tungsten, untuk mendapatkan efek warna yang jernih dan kebiruan; pengaturan nilai Kelvin manual; dan AWB (auto white balance) yang akan menghasilkan imbangan putih yang bagus karena performa kamera semakin ditingkatkan. Untuk fokus, saya fokus pada titik antara 1/3 hingga 1/2 dalam kisaran tengah (Untuk objek tanpa titik tengah, saya fokus ke titik tengah dalam bayangan dan separuh yang disorot) saat melihat ke jendela bidik. Dengan demikian, saya mendapatkan pencahayaan yang tepat dengan kedalaman bidang dan gambar yang jernih secara keseluruhan.

Jembatan Sungsan
1. Lokasi: ujung sungai bagian utara Jembatan Sungsan
2. Tanggal & waktu: 8 Mar 2008 sekitar 19:00, tepat setelah matahari terbenam
3. Info pengaturan: 50 mm F1.4 Pengukuran cahaya: Multi bukaan: F11 kecepatan rana: 8 detik ISO: 100 Mode: Tungsten

Menyinari Bunga dengan Cahaya - Foto Bunga Ceri Mekar di Malam Hari

■Ditulis dan dipotret oleh Heonguk Son (Nama pena: Sonddadadak~)

MF 50 mm F1.4S / Mode pencahayaan: M / Bukaan: F8 / Kecepatan rana: 10 detik / ISO: 100 / Imbangan Putih: Nilai Kelvin 2780 / pemotretan file RAW / sRGB

Kesulitan saat memotret bunga ceri di malam hari yaitu objek tidak diam, namun sedikit bergerak saat diterpa angin. Oleh karena itu ujung cabang mungkin akan lebih kabur dibandingkan bagian lain dalam foto jika menggunakan pencahayaan yang lebih lama. Ini berarti Anda harus menambah ISO atau menggunakan bukaan yang lebih lebar untuk menambah kecepatan rana.

Namun, jika Anda berusaha mendapatkan gambar yang lebih jelas dengan objek seluruh cabang atau bunga yang sedang mekar, pengaturan bukaan harus lebih kecil agar kedalaman bidang lebih tinggi. Hasilnya, kecepatan rana akan lebih lama. Tentu saja, kedalaman bidang akan lebih dalam jika Anda menggunakan lensa bersudut lebar. Oleh karena itu, Anda akan mendapatkan hasil dengan kedalaman bidang yang dalam - meskipun pengaturan bukaan lebih rendah - dengan menggunakan lensa bersudut lebar dan bukan lensa telefoto. Tergantung pada fokus oleh fotografer, nilai bukaan, kecepatan rana dan pengaturan ISO juga bisa berbeda. Saya pribadi menggunakan pengaturan ISO 100 untuk kualitas gambar, nilai bukaan F8 hingga 16 untuk mendapatkan kedalaman bidang yang sesuai, dan kecepatan rana 10 hingga 15 detik. Selain itu, Anda harus sabar menunggu momen yang tenang tanpa hembusan angin sehingga cabang bisa diam, karena waktu pencahayaan cukup lama. Selama periode Festival Bunga Ceri di Korea, biasanya pohon ceri disinari dengan lampu. Oleh karena itu Anda harus teliti sehingga tidak ada "lubang" putih pada foto karena ada bunga yang terlalu terang. Jika warna lampu berubah, Anda dapat memotret beberapa kali untuk menciptakan foto dengan berbagai efek dan suasana.

Jika menggunakan auto white balance, Anda mungkin akan mendapatkan foto yang kurang memuaskan karena warna foto berbeda pada setiap kali pemotretan meskipun pengaturan lainnya sama. Setel nilai Kelvin secara manual untuk menetapkan suhu warna sebelum memotret dapat menjadi langkah terbaik.

AAF 180 mm F2.8D ED / Mode pencahayaan: M / Bukaan: 11 / Kecepatan rana: 15 detik / ISO: 100 /
Imbangan Putih: Nilai Kelvin 2500 / Pemotretan file RAW / sRGB

Mengambil Foto Berekor di Dalam Ruangan – Gerakan Pendulum

■Ditulis dan dipotret oleh Heonguk Son (Nama pena: Sonddadadak)

MF 50 mm F1.4S / Mode pencahayaan: M / Bukaan: 16 / Kecepatan rana: 246 detik / ISO: 100 /
Imbangan Putih: Nilai Kelvin 3130 / Pemotretan file RAW / sRGB

Memotret gambar pola geometris lampu menggunakan gerakan pendulum sungguh sangat menarik. Pertama, Anda memerlukan benang dan senter mini (sebaiknya senter kecil dengan satu bohlam, karena senter akan menjadi bandul), kamera, tripod, dan kabel pelepas. Pertama, ikatkan 1-1,5 m benang ke ujung senter, kemudian ikatkan senter tersebut ke langit-langit. Setel ketinggian tripod serendah mungkin, kemudian setel sudut kamera dengan mengarahkan lensa kamera ke langit-langit. Pastikan kamera memiliki sudut tampilan yang tepat dengan memeriksanya melalui jendela bidik. Setel bila perlu. Cobalah mencari bandul di tengah jendela bidik dan setel fokus di ujung bandul. Kemudian, setel kamera ke MF. Setel kecepatan rana ke mode bulb (B). Ingat, semakin besar bukaan, semakin tebal hasil garisnya, dan sebaliknya – semakin kecil bukaan, semakin tipis hasil garis pada foto. Sebaiknya Anda menyetel garis setipis mungkin menggunakan pengaturan bukaan, karena jarak antar garis akan lebih sempit saat bandul menuju ke bagian tengah. Untuk format, potret dengan file RAW kemudian ubah warna lampu dengan program koreksi file RAW untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

AF-S 17-35 mm F2.8D ED / Mode pencahayaan: M / Bukaan: 16 / Kecepatan rana: 340 detik / ISO: 100 / Imbangan Putih: Nilai Kelvin 3130 / Pemotretan file RAW / sRGB

Setelah menghubungkan kabel pelepas, matikan semua lampu sehingga ruangan benar-benar gelap, kemudian hidupkan senter (bandul). Tarik bandul kemudian lepaskan, maka akan terbentu gerakan linier. Namun, kali ini usahakan membuat gerakan melingkar dengan mendorong bandul ke salah satu sisi supaya hasil foto bisa seperti gambar di atas. Setelah terbentuk lingkaran dengan ukuran sesuai yang diinginkan, telah kabel pelepas untuk mulai merekam. Jika bukaan disetel ke 16, pengaturan pencahayaan sekitar 3 hingga 6 menit sudah cukup, dan Anda harus menentukan pengaturan pencahayaan yang tepat dengan mengamati gerakan bandul. Ingat, mungkin Anda harus mencoba beberapa kali hingga mendapatkan gambar yang sempurna. Namun teruslah berusaha, dan pasti Anda akan berhasil.

Cahaya Ekor Lampu yang Melintas di Keheningan Malam

■Ditulis dan dipotret oleh Minseok Son (Nama pena: hooligan)

Judul: Garis Lokasi: Jianjae, Hamyang-gun ISO100, F8, 30 detik

Memotret ekor lampu dari kendaraan yang melaju di sepanjang jalan di lereng gunung tanpa pencahayaan buatan adalah esensi dari fotografi di malam hari. Khususnya jika jalan raya tersebut memiliki belokan atau lereng turunan yang tajam, ekor lampu yang tertangkap dalam foto malam memiliki kualitas dinamis yang jarang ditemukan dalam foto malam. Secara umum, mobil yang dikemudikan di jalan pegunungan yang gelap cenderung berkecepatan rendah. Karena kecepatan rana maksimum yang didukung oleh DSLR AV, mode TV dan M hanya selama 30 detik, fitur bulb dan kabel pelepas harus digunakan untuk mendapatkan kecepatan rana lebih dari 30 detik, dan ini diperlukan untuk mendapatkan ekor lampu yang tanpa cela. Untuk pilihan lensa, lensa sudut lebar lebih cocok daripada lensa telefoto untuk menghasilkan efek ekor lampu yang lengkap, tanpa terputus. Ingat, lensa ultra lebar – kurang dari 20 mm – akan menghasilkan ekor lampu yang lebih lebar dan jelas pada foto. Untuk pengaturan imbangan putih, sebaiknya pilih mode fluorescent atau tungsten. Kontras yang jelas antara ekor lampu putih dan langit yang gelap akan langsung menarik perhatian orang yang melihat. Juga ingat bahwa warna ekor lampu akan lebih putih jika suhu warna turun, dan usahakan menyetel WB ke mode fluorescent atau tungsten. Anda juga dapat memeriksa beberapa hasil foto dan menerapkan beragam suhu warna yang berbeda. Untuk pencahayaan, sebaiknya kurang pencahayaan akan lebih bagus. Dalam beberapa situasi, mungkin Anda juga perlu menegaskan ekor lampu dengan mempergelap latar belakang agar kualitas gerakan mobil lebih dinamis dengan langit yang gelap. Oleh karena itu, Anda harus mengetahui bagaimana cara menonjolkan ekor lampu dibandingkan latar belakang dan menerapkan kompensasi pencahayaan yang lebih gelap 1 hingga 2 stop, dan bukan hanya mengandalkan nilai pencahayaan optimal. Dengan memperhatikan sifat pemotretan, sebaiknya Anda mengajak dua atau tiga teman daripada memotret sendirian. Menemukan mobil yang melintas di jalan pegunungan di tengah malam cukup sulit, jadi mungkin Anda harus mengemudikan sendiri mobil Anda dan kemudian memotretnya daripada menunggu ada mobil yang melintas. Jika Anda membawa teman yang dapat menekan kabel pelepas saat Anda mengemudi, makan juga menjadi ide yang bagus. Pastikan sebelumnya Anda mengecek pola gerakan dan komposisi foto. Menemukan komposisi yang tepat dalam kegelapan hanya dengan mengandalkan indera bukanlah tugas yang mudah. Sebaiknya Anda memeriksa lokasi sebelum matahari terbenam untuk mengecek beberapa pola gerakan dan menentukan bagaimana dan di mana lokasi ekor lampu mobil yang akan dipotret.

Judul: Menikmati Keheningan Lokasi: Jalur Motor Lokal Nonsan hingga Wanju
ISO100, F8, 221 detik

Klimaks Lanskap Kota di Malam Hari - Gedung

■Ditulis dan dipotret oleh Yui-jeong Choi (Nama pena: hongdangmu)

M mode / ISO: 100 / F8 6 detik / Imbangan Putih: Pengaturan nilai Kelvin / Gambar diambil dalam sRGB jpeg / Kompensasi: 8211 / Ketajaman dan keseimbangan warna diedit dengan Photoshop

Salah satu keuntungan memotret di malam hari adalah foto lampu kota yang gemerlapan. Jika cuaca mendukung dan Anda bahkan dapat melihat awan melintas di atas kota yang gemerlap, mungkin Anda merasa seperti dapat memotret semuanya, termasuk pemandangan kota di malam hari, sungai, dan jalan raya dengan lampu mobil yang bergerak. Namun, sekalipun cuaca buruk, jangan keluar rumah tanpa membawa kamera dan tripod. Lebih baik Anda bersiap daripada kecewa jika memiliki kesempatan namun terbuang sia-sia. Memotret gedung-gedung tinggi di Seoul di malam hari tidak semudah kedengarannya. Meskipun Anda dapat naik ke gunung yang tinggi, kadang Anda masih harus naik ke atap gedung yang tinggi untuk menemukan objek yang tepat dan menciptakan komposisi yang unik dan menarik. Sebaiknya Anda naik ke atap gedung setelah mendapatkan izin dari manajer gedung. Secara umum, Anda harus menggunakan ISO paling rendah saat memotret, dengan pengaturan bukaan F8 hingga 13. Saat memotret gedung yang gemerlap, sebaiknya setel kecepatan rana mulai 2-6 detik menjadi 8-13 detik. Untuk mencegah gerakan kamera, selalu gunakan kabel pelepas dan juga pengaturan kunci cermin untuk mencegah guncangan cermin. Untuk mengekspresikan efek lampu yang jernih dan tegas, saya menggunakan clear mode di kamera. Saya juga sering menggunakan lensa mata ikan dengan sudut tampilan ekstrim karena memiliki karakteristik dan efek yang unik. Jika objek yang akan dipotret terlalu dekat dan sudah tidak bisa mundur, berarti saatnya menggunakan lensa mata ikan untuk memotret objek tersebut tanpa mengorbankan apa pun. Sungguh sangat memuaskan. Beberapa orang menghindari lensa ini karena menimbulkan distorsi, namun saya suka dengan efeknya yang menarik. Salah satu keunggulannya yaitu memungkinkan konfigurasi ulang pada objek yang dipotret menggunakan lensa selain mata ikan. Seperti pada gambar di atas, gedung yang tinggi atau beberapa objek dapat termuat dalam satu foto, ini adalah salah satu keunggulan lain lensa ini. Jika Anda memotret gedung yang gemerlap, maka tidak perlu menggunakan pencahayaan yang lama. Karena suasananya gelap saat mengambil foto ini, saya menggunakan kecepatan rana yang lambat untuk membuat langit menjadi lebih terang