News

Perjalanan Menjadi Samsung Digital Lighthouse School

Temukan bagaimana program Samsung for Education mendampingi sekolah bertransformasi secara bertahap. Artikel ini mengikuti perjalanan satu sekolah hingga menjadi Samsung Digital Lighthouse School, mulai dari pelatihan guru hingga perubahan di ruang kelas, dan menunjukkan bahwa setiap sekolah bisa memulai dari titiknya masing-masing.

2026-08-31

Setiap sekolah memiliki titik awal yang berbeda. Dan perjalanan menuju transformasi digital tidak selalu dimulai dengan penghargaan sebagai tujuan.

Bagi SMP Islam Al Azhar 25 Tangerang Selatan, perjalanan menjadi Samsung Digital Lighthouse School tidak dimulai dengan tujuan mendapatkan pengakuan. Perjalanan ini berawal dari satu masalah nyata di ruang kelas dan keputusan untuk menyelesaikannya dengan dukungan program Samsung for Education, yang membantu sekolah menjalani transformasi digital tahap demi tahap. Inilah kisah bagaimana satu kelas berisi tiga puluh siswa berkembang menjadi budaya pembelajaran digital di seluruh sekolah, sesuai dengan perjalanan yang mereka lalui.

Apa itu program Samsung for Education?

Al Azhar 25 tidak perlu merintis jalannya sendiri. Sekolah ini mengikuti tahapan yang sudah dirancang.

Samsung for Education mendampingi sekolah menjalani transformasi digital secara bertahap, sesuai dengan kondisi awal masing-masing. Proses ini memiliki tahapan yang jelas. Dimulai dengan melihat kondisi sekolah secara menyeluruh, mulai dari lingkungan belajar, guru, siswa, hingga komunitas di sekitarnya. Setelah itu, guru dan pimpinan sekolah mengikuti bootcamp serta pengembangan profesional berkelanjutan, sebelum sekolah kembali dinilai untuk melihat sejauh mana perkembangannya.

Pada tahap akhir, sekolah memperoleh pengakuan sebagai Samsung School, kemudian sebagai Samsung Digital Lighthouse School, sebagai bukti perubahan nyata, bukan sebagai syarat untuk memulai.

Berikut perjalanan yang dilalui salah satu sekolah di Tangerang Selatan, Indonesia.

Mengapa sekolah ini beralih ke pembelajaran digital

Belum lama ini, pembelajaran di Al Azhar 25 sepenuhnya bertumpu pada buku cetak. Pendekatan yang digunakan sama untuk semua siswa, baik mereka yang lebih cepat memahami materi maupun yang perlahan tertinggal. Guru kesulitan menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan setiap siswa, sekaligus mengetahui siapa yang benar-benar mampu mengikuti pelajaran dengan baik.

Dorongan untuk berubah datang dari kepala sekolah pada periode 2021 hingga 2022, yang juga dipengaruhi oleh keseharian para siswa di sekolah. Pada tahap ini, belum ada rencana besar, apalagi ambisi untuk meraih pengakuan tertentu. Yang ada adalah keinginan sekolah untuk memberikan pembelajaran yang lebih baik, serta keyakinan bahwa teknologi yang tepat, jika digunakan dengan cara yang tepat, dapat membantu mewujudkannya.

Titik awal perjalanan: penilaian kesiapan digital

Alih-alih langsung membagikan tablet kepada setiap siswa, sekolah memulai dengan melihat secara jujur sejauh mana kesiapan digitalnya saat itu.

Penilaian pertama menunjukkan bahwa Al Azhar 25 masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Dilihat dari berbagai aspek penting, mulai dari lingkungan belajar, pengembangan guru, keterlibatan siswa, hingga hubungan sekolah dengan komunitas, Al Azhar 25 masih berada pada tahap awal transformasi digital. Namun, penilaian ini justru memberikan sesuatu yang lebih penting: gambaran yang jelas tentang kesenjangan yang masih ada dan tahapan yang perlu dilalui untuk mengatasinya.

Sekolah pun memulai dari skala kecil dan secara terencana, melalui satu kelas yang terdiri dari tiga puluh siswa dengan dukungan perangkat Galaxy Tab. Kelas ini menjadi proyek percontohan dalam lingkungan belajar yang nyata. Pada minggu-minggu awal, proses adaptasi belum sepenuhnya berjalan mulus. Siswa dan guru masih membiasakan diri menggunakan tablet, proses pembelajaran sempat mengalami kendala, dan masih banyak hal yang perlu disesuaikan. Yang membantu sekolah melewati tahap ini bukanlah awal yang sempurna, melainkan pendampingan yang konsisten. Samsung dan tim digital sekolah terus berkomunikasi secara intensif dan bersama-sama mengatasi setiap kendala yang muncul.

Bagaimana pelatihan guru membangun rasa percaya diri

Titik balik yang sesungguhnya bukan terletak pada perangkat, melainkan pada para guru. Dan pada awalnya, tidak semua guru langsung yakin dengan pendekatan ini.

Sebagian guru masih ragu karena khawatir tablet justru akan mengalihkan perhatian siswa dari pembelajaran. Namun, yang mengubah pandangan mereka bukan sekadar penggunaan perangkat, melainkan pelatihan dan pendampingan yang diberikan.

Perubahannya terlihat jelas sebelum dan sesudah pelatihan. Sebelumnya, para guru masih mengandalkan cara mengajar yang sudah familiar dan belum yakin bagaimana tablet dapat digunakan dalam pembelajaran yang biasa mereka lakukan. Kemudian, mereka mendapatkan dukungan terstruktur melalui bootcamp dengan praktik langsung serta rangkaian kursus di Samsung Learning Hub¹, yang secara bertahap membantu mereka semakin terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Setelah pelatihan, para guru mulai merancang pembelajaran dengan menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses belajar. Perubahan itu benar-benar terasa ketika mereka mulai mengembangkan proyek bersama siswa di kelas dan melihat langsung berbagai hal yang dapat dilakukan dengan dukungan teknologi.

Bagi H. Akrom Hasani, koordinator kurikulum sekolah, perubahan tersebut perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.

"Setelah mengikuti pelatihan, saya mulai secara intuitif menggunakan Galaxy Tablet untuk menyusun rencana pembelajaran. Program ini menunjukkan kepada saya bagaimana pembelajaran digital dapat mengubah cara mengajar sehingga siswa lebih menghargai proses belajar. Kini, pembelajaran yang saya lakukan menjadi lebih terstruktur dan interaktif karena saya dapat menghadirkan konsep-konsep abstrak secara lebih nyata di ruang kelas."

H. Akrom Hasani, S.Ag, Koordinator Kurikulum, SMP Islam Al Azhar 25

Bagaimana pembelajaran digital mengubah ruang kelas

"Dengan bekal pelatihan yang telah mereka jalani, para guru mulai mengajar dengan cara yang berbeda. Perubahan itu terlihat di tempat yang paling menentukan: pembelajaran sehari-hari.

Bayangkan kelas geometri sebelumnya. Siswa menggambar grafik dengan tangan di buku berpetak, sebuah proses yang membutuhkan penggaris, pensil, dan waktu. Guru berkeliling dari satu meja ke meja lainnya untuk memeriksa buku siswa satu per satu. Hasil ulangan baru dibagikan kembali dalam bentuk kertas beberapa hari kemudian, selama tidak ada lembar yang tercecer.

Kini, bayangkan kelas yang sama. Dengan metode yang dipelajari selama pelatihan, siswa dapat membuat grafik langsung di layar dan menuliskan langkah pengerjaannya saat mengerjakan soal. Tugas dikumpulkan melalui sistem pembelajaran sekolah sehingga tidak ada yang tercecer. Dalam proyek kelompok, siswa dapat menyelesaikan soal bersama, lalu menampilkan hasil pekerjaan mereka di depan kelas untuk dibahas bersama. Teknologi digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, dan dampaknya terasa dalam keseharian di kelas.

Perubahan ini bukan sekadar kesan. Jika sebelumnya hanya siswa di barisan depan yang maju ke papan tulis, kini setiap siswa dapat berpartisipasi dari mejanya masing-masing. Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa tugas dan memberikan umpan balik pun berkurang hingga sekitar setengahnya. Hasil belajar juga menunjukkan perubahan yang nyata: siswa kelas 7 pada mata pelajaran matematika yang sebelumnya memiliki rata-rata di bawah standar ketuntasan minimal sekolah, pada tahun berikutnya mencatat rata-rata di atas 80, dengan dua kelas masing-masing mencapai nilai rata-rata 85 dan 82."

Menjaga keamanan siswa dengan Samsung Knox dan memberikan ketenangan bagi orang tua

Semua ini tidak akan berjalan tanpa kepercayaan, dan kepercayaan tersebut perlu dibangun dari dua sisi.

Untuk menjaga keamanan, sekolah mengelola perangkat menggunakan Samsung Knox, sehingga tablet tetap digunakan untuk mendukung pembelajaran sekaligus memungkinkan staf mengamankan perangkat jika sewaktu-waktu hilang.

"Menjaga keamanan siswa dalam lingkungan pembelajaran digital adalah prioritas utama kami. Galaxy Tab yang kami gunakan tidak hanya terintegrasi dengan baik dengan sistem sekolah, tetapi juga dilindungi oleh Samsung Knox. Jika perangkat hilang atau dicuri, kami dapat mengelolanya dari jarak jauh dan menghapus data di dalamnya. Hal ini memberikan ketenangan bagi kami."

Fitriah, Wakil Kepala Sekolah, SMP Islam Al Azhar 25

Pada awalnya, orang tua juga memiliki kekhawatiran yang umum, mulai dari durasi penggunaan layar, konten yang mungkin tidak sengaja diakses anak, hingga biaya apabila tablet hilang. Sekolah tidak mengabaikan kekhawatiran tersebut. Berbagai hal ini dibahas dalam sesi unboxing tablet dan pertemuan bersama orang tua. Komunikasi kemudian terus dilakukan dengan menunjukkan hasil karya nyata para siswa kepada orang tua, hingga kekhawatiran tersebut perlahan berubah menjadi rasa bangga.

Bagaimana siswa belajar dengan perangkat digital

Seiring berjalannya waktu, teknologi tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang baru, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari. Proses belajar pun bergeser dari yang sebelumnya berpusat pada guru menjadi lebih berpusat pada siswa. Siswa yang sebelumnya menunggu arahan kini bekerja dalam kelompok, mendiskusikan ide, dan mencari jawaban secara mandiri sambil mempertimbangkan sumber informasi yang dapat dipercaya. Beberapa aktivitas yang kini mereka lakukan bahkan sebelumnya sulit dilakukan, seperti mengerjakan proyek kelompok bersama meski berada di rumah masing-masing.

"Sebelum menggunakan Galaxy Tablet, belajar terasa kurang praktis karena saya harus membawa banyak buku yang berat dan mencari materi dari berbagai sumber. Sekarang semuanya menjadi jauh lebih mudah. Saya bisa mencatat langsung di tablet, mengakses materi kapan saja, mengerjakan tugas secara digital, dan berkolaborasi dengan teman-teman. Belajar kini lebih fleksibel, menarik, dan membuat saya jauh lebih bersemangat di kelas."

Almira Shaafa Divara, Siswa Kelas 9

Siswa mengerjakan proyek kelompok menggunakan Galaxy Tab Siswa mengerjakan proyek kelompok menggunakan Galaxy Tab

Menjadi Samsung Digital Lighthouse School

Ketika akhirnya mendapat pengakuan, hal tersebut menjadi hasil dari seluruh proses yang telah dijalani, bukan tujuan sejak awal.

Perjalanan menuju tahap tersebut berlangsung secara bertahap. Guru mengembangkan kompetensinya melalui bootcamp dan Samsung Learning Hub, praktik pembelajaran di kelas mulai berubah, dan sekolah terus berkembang mengikuti kerangka Samsung for Education. Upaya yang konsisten ini kemudian mengantarkan sekolah meraih pengakuan sebagai Samsung School, tingkat dasar dalam program tersebut. Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Ketika sekolah kembali dinilai menggunakan kerangka yang sama seperti pada tahap awal, kemajuannya dapat terlihat secara nyata: dari mulai mengadopsi teknologi, menyesuaikan cara mengajar, hingga benar-benar mentransformasi pembelajaran di ruang kelas.

Kemajuan yang terukur inilah yang kemudian mengantarkan sekolah meraih pengakuan sebagai Samsung Digital Lighthouse School pada 27 Januari 2026. Perubahan yang terjadi tidak hanya terlihat dari penggunaan perangkat, tetapi dari sejauh mana teknologi telah menjadi bagian dari proses belajar mengajar. Teknologi tidak lagi digunakan hanya dalam beberapa kegiatan pembelajaran, tetapi telah diterapkan dalam cara sekolah mengajar dan siswa belajar secara keseluruhan.

Perubahan ini lebih mudah dilihat daripada dijelaskan. Seperti inilah Al Azhar 25 hari ini, dari pengalaman mereka yang terlibat langsung.

Siswa mengerjakan proyek kelompok menggunakan Galaxy Tab Siswa mengerjakan proyek kelompok menggunakan Galaxy Tab

Kini, sekolah juga membuka kesempatan bagi sekolah lain untuk melihat secara langsung bagaimana proses tersebut dijalankan serta berbagi pengalaman mengenai apa yang berhasil dan apa yang masih perlu dikembangkan. Bagi komunitas sekolah, pengakuan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan tanggung jawab untuk terus berkembang sekaligus membantu sekolah lain memulai perjalanan mereka sendiri.

"Perjalanan kami bersama tablet Samsung mengajarkan bahwa transformasi digital bukan sekadar menghadirkan perangkat ke dalam kelas. Ini tentang membangun budaya belajar yang lebih kreatif, inovatif, dan bermakna. Hal ini membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan kemauan yang kuat dari guru, siswa, orang tua, dan sekolah. Bagi sekolah yang baru akan memulai, jangan menunggu semuanya sempurna. Mulailah dari langkah-langkah kecil dengan tujuan pembelajaran yang jelas, didukung pelatihan yang berkelanjutan, dan libatkan seluruh warga sekolah dalam perjalanan ini."

Drs. Nasikhun, M.A., Kepala Sekolah, SMP Islam Al Azhar 25 Tangerang Selatan

Kisah ini tidak berhenti di satu sekolah. Al Azhar 25 merupakan sekolah pertama di bawah yayasannya yang menerapkan pendekatan pembelajaran digital secara terintegrasi dan kini menjadi salah satu contoh bagi sekolah-sekolah lain di lingkungan yayasan.

"Dengan 227 sekolah di seluruh Indonesia, Yayasan Pesantren Islam Al Azhar selalu mengutamakan mutu dan konsistensi dalam pendidikan. SMP Islam Al Azhar 25 adalah sekolah pertama kami yang menerapkan pendekatan pembelajaran digital yang lebih terintegrasi, dan hal ini menunjukkan kepada kami bahwa teknologi dapat memperkuat cara guru mengajar tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Pengalaman ini memberi kami dasar yang jelas dan praktis untuk memperluas pembelajaran digital secara bertanggung jawab di sekolah-sekolah Al Azhar."

Drs. Nuri Muhammadi, M.Pd, Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah, Yayasan Pesantren Islam Al Azhar

Di luar Yayasan Al Azhar, sekolah lain juga telah menjalani perjalanan serupa. Thursina International, Al-Muslim, dan Salman Al Farisi masing-masing telah melalui prosesnya sendiri hingga menjadi Samsung Digital Lighthouse School di Indonesia.

Bagaimana sekolah Anda dapat memulai perjalanannya

Al Azhar 25 tidak memulai perjalanan dengan tujuan menjadi Samsung Digital Lighthouse School. Sekolah ini memulainya dari satu masalah yang ingin diselesaikan, melihat secara jujur kondisi yang ada, lalu menjalani prosesnya selangkah demi selangkah. Pengakuan hadir sebagai hasil dari proses tersebut.

Inilah hal yang dapat menjadi dorongan bagi sekolah lain yang membaca kisah ini. Anda tidak perlu memulai dengan langkah besar. Yang terpenting adalah memulai. Apa pun kondisi sekolah Anda saat ini, selalu ada langkah berikutnya yang dapat dilakukan.

Temukan titik awal perjalanan sekolah Anda bersama Samsung Digital Schools, atau baca kisah di balik Samsung for Education untuk memahami visi yang lebih luas di balik program ini di seluruh kawasan.

Pertanyaan yang sering diajukan

  • Samsung Digital Lighthouse School adalah sekolah yang mendapatkan pengakuan dari Samsung atas penggunaan teknologi secara berkelanjutan dan bermakna untuk memperkuat proses belajar mengajar. Lighthouse School memiliki tenaga pendidik bersertifikat, capaian yang terdokumentasi, serta budaya berbagi pengetahuan yang kuat. Sekolah ini juga menjadi rujukan bagi sekolah lain sebagai contoh dari hal-hal yang dapat dicapai melalui pembelajaran digital. Samsung Digital Lighthouse School merupakan tingkat pengakuan yang lebih tinggi dari dua tingkatan yang ada dalam program Samsung.

¹The Samsung Learning Hub tersedia di pasar tertentu.

Berlangganan

Berlangganan

Permintaan Informasi Bisnis

Hubungi tim penjualan kami untuk mendiskusikan opsi terbaik untuk bisnis Anda.

Hubungi tim penjualan kami untuk mendiskusikan opsi terbaik untuk bisnis Anda.

Hubungi Langsung

Panggilan Langsung

Dukungan Teknis

Butuh dukungan? Hubungi para ahli kami untuk mendapatkan dukungan khusus produk dan bantuan teknis.

Butuh dukungan? Hubungi para ahli kami untuk mendapatkan dukungan khusus produk dan bantuan teknis.